Studi Kasus Keracunan Timbal (Toksikologi Klinik)

Bapak Edo merasakan pusing, mual, dan kejang kejang setelah 30 menit yang lalu makan ikan hasil tanggapannya dari sungai dekat pabrik batu baterai. Selain itu pak edo juga merasakan haus dan rasa logam disertai rasa terbakar pada mulut. Kemungkinan besar bapak Edo mengalami keracunan limbah yang terdapat dalam ikan yang dimakannnya. 15 menit kemudian pak edo dibawa ke Rumah sakit terdekat. Berdasarkan hasil laboratorium kadar darah Bapak Edo mengandung logam berat Pb sebesar 80 mg/dl.

  • PENYELESIAN KASUS

    1. Subjective

Nama = Bapak Edo

Jenis kelamin = Laki-laki

Keluhan = pusing, mual, dan kejang kejang setelah 30 menit yang lalu makan ikan hasil tanggapannya dari sungai dekat pabrik batu baterai. Selain itu pak edo juga merasakan haus dan rasa logam disertai rasa terbakar pada mulut. 

    1. Objective

Hasil pemeriksaan laboratorium darah Bapak Edo mengandung logam berat Pb sebesar 80 mg/dl.

    1. Assesment

Bapak Edo didiagnosa mengalami keracunan limbah Pb yang terdapat dalam ikan yang dimakannnya.

    1. PLAN

  • Tujuan terapi :

  • Mempertahankan kehidupan pasien

  • Memperbaiki mortilitas dan morbiditas pasien

  • Mencegah penyebaran racun dengan cara menghambat absorbi racun.

  • Menghilangkan racun dari dalam tubuh

  • Sasaran terapi :

  • Menggunakan terapi antidot untuk menurunkan aktivitas Absorbsi, penghambatan Proses Distribusi, induksi Proses Eliminasi, dan meningkatkan kisaran waktu terapi

  • menghambat absorpsi dengan cara menggeser kurva absorpi ke arah kanan

  • Terapi farmakologi : pemberian antidot CaNa2EDTA dengan dosis 1 gram dua kali sehari selama 5 hari.

  • Terapi non-farmakologi : oksigenasi

  • PEMBAHASAN

Berdasarkan kasus tersebut dianalaisis bahwa pasien terpejani oleh timbal yang berasal dari makanan yag tercemari oleh timbal batu baterai.Kemudian pasien mengalami gejala keracunan logam timbal (pb). Keracunan yang dialami pasien telah mencapai merupakan jenis keracunan akut, hal ini dikarenakan gejala yang ditimbulkan terlihat satu jam setelah pemejanan, selain itu gejala yang nampak pada pasien adalah pusing, mual, kejang, meraa haus ,merasakan logam, serta rasa terbakar pada mulut yang mengindikasikan bahwa paien mengalami keracunan akut.

keracunan timbal

keracunan timbal

Mekanisme terjadinya keracunan timbal (pb)

Timbal Hitam yang masuk ke dalam tubuh akan diabsorbsi dan diangkut oleh darah ke organ-organ tubuhsebanyak 96% Pb dalam darah diikat oleh eritrosit.

Terapi yang diberikan kepada pasien adalah terapi non farmakologi yaitu pemberian oksigenasi dan terapi farmakologi pemberian antidot.

Sasaran terapi pada keracunan ini adalah dengan prinsip menghambat absorpsi racun didalam tubuh dengan cara menggeser kuva absorpsi ke arah kanan. Metode yang digunakan adalah metode khas dengan pemberian antidot CaNa2EDTA dengan dosis 1 gram dua kali sehari selama 5 hari.

Mekanisme antidot CaNa2EDTA di dalam tubuh yaitu CaNa2EDTA akan membentuk kompleks dengan ion logam timbal (Pb). Berdasarkan deret volta sifat reduktor Pb lebih kecil dibandingkan dengan Ca. Hal ini berarti kemampuan oksidasi Pb lebih kecil dibandingkan dengan Ca sehingga posisi Ca di EDTA akan digantikan oleh Pb. Sehingga Pb2+ akan berikatan dengan Na2EDTA dan terbentuk kompleks PbNa2EDTA yang stabil . Akibatnya Pb akan keluar dalam bentuk larutan berupa air seni. Sedangkan Ca2+ akan tertinggal dalam tubuh sebagai zat gizi. Jadi kompleks kalsium disodium edta (CaNa2EDTA) dapat digunakan sebagai pengikat logam timbal (Pb) dalam tubuh manusia sehingga timbal (Pb) yang bersifat racun dapat keluar dari dalam tubuh manusia tersebut.

BAB IV

PENUTUP

I. KESIMPULAN

  1. Keracunan timbal (Pb) disebabkan oleh pencemaran melalui udara, debu, air, dan makanan

  2. Keracunan timbal (Pb) dapat mengakibatkan meningkatkan kadar ALAD dalam darah dan urine, protopporhin dalam sel darah merah, kandungan logam Fe dalam plasma darah, menurunkan umur sel darah merah ,jumlah sel darah merah, dan kadar sel-sel darah merah yang masih muda.

  3. Berdasarkan analisis kasus pasien di diagnosa mengalami keracunan timbal pada fase akut

  4. Sasaran terapi adalah menghambat fase absorpsi dengan cara menggeser kurva absorpsi ke arah kanan.

  5. Terapi yang diberikan dengan metode khas pemberian antidotum spesifik yaitu pemberian kalsium disodium EDTA (CaNa2EDTA).