Arsitektur Bangunan Rumah Klasik Adat Mandar

Arsitektur Bangunan Rumah Klasik Adat Mandar

Struktur arsitektur bangunan rumah klasik adat mandar, terbagi dalam sisi paling atas, yakni ”ate” (atap). Atap rumah berupa prisma yang memanjang ke belakang menutupi semua sisi atas rumah. Rumah ini mempunyai panjang 20 meter serta lebar 15 meter.

Pada waktu lalu, rumah-rumah masyarakat, baik boyang adaq ataupun boyang beasa memakai atap rumbia. Perihal ini karena disebabkan bahan itu tersedia banyak serta gampang untuk memperolehnya. Di bagian depan atap ada ”tumbaq layar” yang memberikan ”identitas” mengenai status penghuninya. Pada ”tumbaq layar” itu dipasang ornament ukiran bunga melati. Di ujung bawah atap, baik di bagian kanan ataupun kiri diberi ornament ukiran burung atau ayam jantan. Di bagian atas penutup bubungan, baik di muka ataupun belakang dipasang ornament yang tegak ke atas. Ornament itu dimaksud ”teppang” agar menambah kesan rumah klasik pada bangunan tersebut.

Rumah Klasik Adat Mandar

rumah klasik
Sisi yang lainnya pada rumah ialah rinding (dinding). Dinding rumah terbuat dari kayu (papan) serta bambu (taqta serta alisi). Biasanya, boyang adaq memiliki dinding yang terbuat dari papan. Dan boyang beasa tidak hanya berdinding papan, ada juga yang berdinding taqta serta alisi, rumah yang berdinding taqta serta alisi, penghuninya datang dari kelompok ata (beasa). Dinding rumah didesain serta dibikin sedemikian rupa sesuai dengan tinggi serta panjang tiap-tiap bagian rumah serta diperlengkapi jendela pada tiap-tiap pada tiang. Hal tersebut dibikin dengan utuh sebelum dipasang atau dilengketkan pada tiang rumah. Pembuatan dinding semacam itu ditujukan untuk lebih mempermudah pemasangannya, demikian juga untuk membukanya bila rumah itu akan dibongkar atau dipindahkan.

Dinding rumah tradisional Mandar biasanya terbuat dari papan, alisi serta taqta. Pada dinding bagian depan rumah, umumnya diperlengkapi tiga ”pepattuang” (jendela) serta satu ”ba’ba” (pintu). Dinding bagian depan ini umumnya ditambahkan ornament di bagian luar dibawah jendela. Pada dinding bagian kanan serta kiri rumah umumnya ikut ditambahkan dengan pepattuang sekitar dua atau tiga buah.
Pepattuang berupa sisi empat yang rata-rata terdiri atas dua daun jendela yang memiliki ukuran seputar 100 x 40 cm. Daun jendela itu bisa di buka ke kiri serta ke kanan. Letak pepattuang umumnya ada pada dua buah tiang rumah. Untuk mempercantik, pepattuang ini umumnya dikasih ornament berbentuk ukiran serta terali dari kayu yang banyaknya tetap ganjil.

Terali-terali itu ada yang dipasang dengan vertikal serta ada yang horizontal. Dengan vertikal memiliki arti jalinan yang serasi dengan Tuhannya. Dan dengan horizontal memiliki arti jalinan yang serasi dengan sesama manusia. Pemasangan ornament semacam itu cuma terlihat pada jendela yang ada dibagian depan serta bagian kiri kanan rumah. Pemasangan ornament berbentuk ukiran serta terali-terali dapat juga disaksikan pada bangunan penambahan di depan rumah, yakni lego-lego yang mempekuat konsep rumah klasik pada bangunan tersebut. walter-c-uhler.com