Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

Teori tentang keteraturan evolusi antara manusia dan kera besar, termasuk orangutan yang hidup saat ini bukannya tanpa dasar. Banyak kemiripan antara orangutan dan manusia. Orangutan itu cerdas dan pembelajar, penyayang seperti manusia, mampu mengasuh bayinya selama bertahuntahun, dapat menangis saat bayinya mati, menyukai jenis buah yang juga disukai manusia, dan masih banyak lagi. Yang membedakan mungkin salah satunya adalah mereka mudah bergelayutan dari satu pohon ke pohon lain, sedang manusia terbiasa hidup tegak di tanah.

Salah satu tempat untuk mengenal serta belajar tentang orangutan ada di Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Wilayah seluas 415.040 ha ini adalah tempat hidup, penangkaran, penelitian, dan konservasi orangutan terbesar di dunia. Ada ribuan orangutan hidup liar di sini, dan ratusan yang sengaja ditangkar, sebelum dilepaskan ke habitat aslinya. Satu tokoh yang berjasa besar dalam pendirian TN ini adalah Birute Mary Galdikas. Birute, satu dari tiga murid Louis Leaky, adalah antropolog yang khusus meneliti orangutan Kalimantan.

Dia yang mendorong pemerintah untuk menjadikan Suaka Margasatwa Kotawaringin menjadi TN pada Oktober 1996, khusus untuk melindungi orangutan di sana. Birute sendiri menghabiskan hidupnya untuk orangutan. Kita dapat menemuinya di Care Centre -semacam rumah sakit- khusus bagi orangutan di depan rumahnya di Pasir Panjang. Bagi penyuka kehidupan alam liar, mengunjungi TN Tanjung Puting memberikan sensasi, tantangan, dan pengalaman tertentu. Di sini Anda dapat mengamati, mengenal orangutan dan hewan-hewan liar lainnya di alam aslinya. Anda juga mendapat pengalaman dan pengetahuan baru tentang hewan-hewan ini.

Misalnya orangutan betina itu makhluk yang semi soliter. Ketika memiliki bayi, dia akan mengasuhnya selama 3 tahun. Bayi orangutan akan belajar cara makan, cara memilih makanan, dari induknya. Misalnya bagaimana cara mengupas durian atau buah lainnya untuk dimakan. Dia juga belajar buah apa saja yang dapat dimakan. Itu sebabnya orangutan disebut makhluk pembelajar. Orangutan juga rentan terhadap penyakit. TBC, cacingan, malaria, hepatitis adalah penyakit yang kerap ditemukan pada orangutan yang ditangkap dan masuk pusat penangkaran. Karena penyakit ini, banyak orangutan yang mati atau harus dirawat seumur hidup sehingga tak dapat dilepas di alam liar.

Orangutan juga menggunakan akalnya untuk bertahan hidup. Misalnya dia menggunakan ranting dan daun tarantang untuk membuat sarang, agar tak digigit nyamuk. Orangutan yang hidup di alam liar baru kawin setelah umur 14 tahun karena yang jantan susah menemukan orangutan betina. Orangutan betina setelah melahirkan, harus menunggu 8 tahun untuk beranak lagi. Itu sebabnya populasi orangutan sedikit di alam, dan semakin sedikit karena banyak orangutan diburu, ditangkap, untuk diperjualbelikan. Banyak juga yang mati kekurangan makanan, sebab hutan tempatnya hidup sudah diubah menjadi area perkebunan.

Orangutan yang disita daru pemburu atau yang diserahkan oleh pemiliknya secara sukarela biasanya akan masuk Care Centre milik Ibu Birute Galdikas untuk diobservasi. Orangutan lalu diperiksa apakah mengidap penyakit tertentu, khususnya penyakit manusia. Jika sakit mereka akan diobati hingga sembuh, dirawat, diberi makanan yang bergizi, hingga sehat, sebelum diberi pelatihan dan dilepas ke alam liar. Orangutan yang sakit atau membawa kuman penyakit amat berbahaya jika langsung dilepas ke alam liar, karena akan menulari orangutan lainnya. Orangutan sehat dari Care Centre akan dikirim ke kampkamp rehabilitasi seperti Camp Leakey dan Pondok Tanggui untuk dilatih hingga memiliki kemampuan bertahan hidup, mencari makan, baru kemudian dilepas di alam bebas.

Di kamp rehabilitasi ini biasanya pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan orangutan, bahkan ikut jadwal feeding, yaitu memberi makan orangutan dengan petugas. Ada banyak cara untuk menunjukkan kepedulian terhadap orangutan. Misalnya, Anda dapat mengadopsi salah satu orangutan di sini. Caranya dengan membantu biaya perawatannya selama jangka waktu tertentu. Nanti Anda akan mendapat laporan perkembangan dari anak asuh Anda tersebut setiap bulan.

Banyak artis Hollywood yang mengadopsi orangutan di sini, lho. Sebut saja Julia Robert, artis yang sempat syuting untuk membuat film dokumenter In The Wild. Cara lain dengan memesan nama Anda untuk menjadi nama salah satu orangutan di sini. Orangutan dengan nama Anda tadi akan Anda bantu biaya hidupnya. Menarik bukan? Anda juga dapat membantu konservasi orangutan dengan mencegah mereka dari tangkapan manusia. Caranya, jangan jarah hutan mereka lagi agar mereka punya tempat hidup yang nyaman.

Penginapan di Sekitar Taman Nasional

Berkunjung ke taman nasional Tanjung Puting tidak perlu bingung mau bermalam dimana lantaran di sekitar area tersebut terdapat penginapan harga terjangkau dan fasilitasnya terbilang lumayan. Misalnya saja penginapan Orangutan River Cruise, Arsela Hotel, Grand Kecubung hotel dan Alibaba Hotel.

Hotel yang saya sebut diatas harga per malam tidak terlalu mahal dan disana ada berbagai fasilitas yang memanjakan tamu. Disediakan pula sebuah genset diesel tipe silent untuk melindungi hotel dari insiden listrik padam. Penasaran dengan harga gensetnya ? Anda bisa melihatnya di daftar harga genset untuk hotel di palembang terbaru tahun 2019.