7 Pertanyaan Penting Tentang Bedrest Bagian 2

4. Berapa Lama Harus bedrest?

sat-jakarta.com – Baik bedrest total maupun setengah bedrest lamanya tidak bisa ditentukan, terpulang kepada kondisi, penyebab, serta usia kehamilan Mama. Contoh kasus, pendarahan yang terjadi akibat plasenta berada di bawah. Bedrest dilakukan sampai pendarahan berhenti atau tidak terjadi berkelanjutan. Pada kondisi bedrest total, biasanya waktunya lebih lama. Ada yang sampai beberapa minggu hingga bulan.

5. Bedrest di rumah sakit atau di rumah?

Tentunya bergantung pada indikasi perawatan. Jika kondisi kehamilan cukup aman dan tidak ada ancaman yang membahayakan, bisa saja Mama tidak perlu bedrest di rumah sakit. “Hanya” diberi obat dan beristirahat di rumah. Hanya saja jika kondisi memburuk atau dirasakan ada ketidaknyamanan harus segera kembali ke rumah sakit. Umumnya bedrest di rumah sakit disarankan pada bumil yang berisiko keguguran di usia kehamilan muda, perdarahan, atau ancaman kelahiran prematur. Kondisi-kondisi ini perlu dipantau dokter sehingga lebih mudah bila Mama beristirahat di rumah sakit.

Apabila pendarahan terjadi ketika usia kehamilan mendekati waktu persalinan, bumil disarankan agar bedrest total beberapa hari. Atau bahkan sampai satu minggu agar janin tidak berisiko lahir dalam keadaan prematur.

6. Apa yang perlu dilakukan saat dokter menyarankan bedrest?

Yang pasti, saran bedrest dari dokter perlu ditaati. Jangan lupa untuk menanyakan kepada dokter hal-hal atau batasan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak di saat bedrest. Jangan sampai mengabaikan saran dari dokter karena hal itu akan menambah risiko bayi lahir prematur ataupun pendarahan yang fatal.

7. Bagaimana mengusir bosan saat bedrest?

Bedrest yang berlangsung lama tentu dapat membuat Mama bosan. Akan tetapi ada banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan pada saat bumil sedang dalam masa bedrest. Tentunya jenis kegiatan perlu disesuaikan dengan kondisi Mama. Kalau diminta bedrest total, Mama tentu tidak boleh jalan-jalan meskipun rasa bosan mendera. Ingat, Mama harus tetap mematuhi perintah dokter demi kesehatan Mama sendiri dan keselamatan janin.